Pokja OAT

Masyarakat adat Tiga Batu Tungku, yakni Molo, Amanuban, dan Amantun yang berlokasi di Soe, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, sangat memperhatikan hubungan antara alam, manusia, dan penciptanya. Pada saat membangun lopo, rumah adat, warga menggunakan kayu ampupu dan kasuari yang lurus, kokoh, keras, dan tidak rapuh. Ketika menenun, alat tenun dari kayu ampupu dan cemara tua, serat enau dan gewang untuk mengikat, kapas, dan tanaman pewarna menjadi bahan utama. Semua diambil dari hutan dan kebun di sekitarnya. Hal ini mendorong warga untuk tetap menjaga kelestarian hutan dan alam agar bahan-bahan tersebut terus tersedia.

Organisasi A’Taimamus, atau yang lebih dikenal dengan Pokja OAT, didirikan oleh Mama Aleta pada 1999 sebagai lingkar belajar untuk menjaga kearifan lokal, dengan memberikan fasilitas bagi masyarakat untuk kembali mendalami tradisi dan adatnya. Pokja OAT juga secara aktif menjadi pendorong kaum perempuan untuk kembali menenun dengan menggunakan bahan-bahan alami. Beberapa produk yang sudah dihasilkan termasuk selimut, selendang, dan kain – dimana pendapatannya bisa membantu keuangan keluarga.

Pokja OAT bervisi untuk mengenalkan budaya warga sekitarnya ke masyarakat yang lebih luas. Festival Ningkam Haumeni merupakan sarana memperkenalkan komitmen adat masyarakat adat Tiga Batu Tungku ke publik. “Kami tidak menjual apa yang kami tidak buat” menjadi slogan utama masyarakat untuk berkomitmen menjaga wilayah sekitarnya.

 

 

 

 

 

Services:
Topics:
Commodity:
Consultants: