Lawe

Perempuan, menjadi sumber inspirasi di kelompok Lawe. Lawe yang didirikan oleh 5 perempuan di Yogyakarta pada 2004 ini didasari pada kecintaan dan kepedulian usaha tenun tradisional Indonesia yang terus mengalami penurunan, terutama karena ketidakberdayaan untuk memasarkan dan mengembangkan produk. Lawe ingin tenun dan kain tradisional Indonesia tidak hanya menjadi kekayaan budaya dalam wacana namun akan mampu mendatangkan kesejahteraan dan kekayaan ekonomi bagi bangsa Indonesia. Keberhasilan ini kelak akan mampu menyejahterakan kelompok perajin dan produsen produk itu sendiri.

 

Berbagai kegiatan untuk meningkatkan nilai tambah kain tenun tradisional telah dan terus dilakukan oleh Lawe, antara lain melalui pelatihan, pengembangan produk, penyebarluasan informasi untuk mendorong pembaruan cara pandang masyarakat mengenai tenun tradisional, serta penjualan produk melalui berbagai media termasuk pameran di tingkat nasional dan internasional.

Salah satu mimpi Lawe adalah ingin menjadikan lurik menjadi ikon Yogyakarta, bahkan Indonesia. Sayangnya jenis kain ini masih kalah populer dibandingkan kain tenun tradisional dari daerah lain, seperti songket misalnya, yang mendahului dikenal oleh masyarakat luas. Itulah mengapa, Lawe mengubah kain lurik yang utuh menjadi produk-produk lain yang lebih mudah diterima masyarakat, dan lebih berdaya guna, seperti baju dan peralatan rumah tangga seperti bed cover, juga pernak pernik seperti kalung dan tas agar bisa lebih sering digunakan.

 

 

 

Services:
Topics: Pengelolaan bisnis; Keuangan lembaga; Pengembangan produk; Pemasaran
Commodity:
Consultants: Adinindyah