Yayasan Riak Bumi

Riak Bumi bekerja sama dengan komunitas yang tinggal di dalam maupun di sekitar Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat. Mereka mendampingi masyarakat menghidupkan kerajinan lokal yang telah ada secara turun temurun di sana yakni tikar anyaman bemban. Tikar anyaman dengan ciri motif khas suku Dayak Iban dibuat oleh ibu-ibu pengrajin di Kecamatan Jongkong Kapuas Hulu. Tikar ini berbahan baku kulit batang semak bemban (Donax Cannaeformis) yang mereka dapatkan dari hutan.

Selain itu yang tak kalah menarik, mereka mendampingi pemetik madu hutan memproduksi madunya secara lestari, serta membantu mencarikan pasar untuk madu hutan dari kawasan ini.  Madu hutan yang dihasilkan dampingan Riak Bumi adalah satu satunya yang memiliki sertifikat organik di Indonesia. Sejak 2003, Riak Bumi membina lebih dari 300 periau atau pemetik madu hutan. Agar harga terdongkrak, mereka meminta para periau menerapkan sistem panen lestari, yaitu cara panen yang ramah lingkungan dengan tidak lagi memeras seluruh sarang dengan tangan kosong. Hal ini sepatutnya dihindari karena selain tidak higienis, juga akan membunuh anak lebah.

Para periau bekerja di area seluas lebih dari tujuh ribu hektar, di desa-desa sekitar Danau Sentarum. Mereka ini tergabung dalam Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS). Dalam sekali musim panen, setiap periau paling besar mendapat Rp24 juta. Dari panen lestari, mereka bisa mendapatkan Rp 30 juta.  Sistem panen lestari ini telah direplikasi oleh Jaringan Madu Hutan Indonesia.

 

 

 

Services:
Topics:
Commodity:
Consultants: –