Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI)

Madu hutan dikenal warga yang bermukim di sekitar hutan sebagai sumber makanan yang bergizi dan lezat. Yang membuatnya khas, lebah penghasil madu (Apis dorsata) mengumpulkan nektar bunga dari berbagai tanaman hutan sehingga memberikan cita rasa yang berbeda. Di banyak tempat di Indonesia, madu menjadi komoditas unggulan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Madu juga bisa menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat adat karena lekat dengan kehidupan sehari-hari.

Banyak potensi yang bisa dikembangkan dari madu hutan. Antara lain, peningkatan kapasitas petani madu hutan untuk pengelolaan madu lestari. Pengelolaan ini mengutamakan perlindungan lebah madu dan habitatnya, serta proses paska panen yang higienis. Misalnya, dengan mengambil kepala sarang yang berisi madu, dan tidak mengambil seluruh sarang agar larva lebah tidak ikut mati. Untuk paska panen, petani tidak diperbolehkan untuk memeras sarang dengan tangan dan diwajibkan menggunakan masker dan tutup kepala untuk menjamin kebersihan.

Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) dirintis sejak 1995 untuk membantu pengembangan proses ini dan juga meningkatkan kualitas produk madu hutan. Hal ini termasuk mengorganisir petani madu hutan, pelatihan pemanenan lestari, mengontrol kualitas dan menentukan harga, dan juga perluasan jaringan pemasaran. Anggota JMHI tersebar di seluruh Indonesia seperti di beberapa pulau besar seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera, dan terakhir anggota baru di Sumbawa. Jaringan ini tergabung ke dalam jaringan Non Timber Forest Product – Exchange Programme (NTFP-EP) – terutama di India, Bangladesh, Filipina dan Kamboja.

 

 

Services:
Topics: Sertifikasi Madu, Pemasaran
Topics: Madu Hutan
Consultants: Hermanto